Wednesday, January 05, 2005

When she sick

Setelah kembali dari perjalanan ke Vientiane & Bangkok selama seminggu, sudah banyak ide-ide untuk sharing cerita. Belum sempat apa-apa, anak gue sakit.

Waktu belum punya anak, kalo denger cerita ibu-ibu, terutama ibu bekerja, yang anaknya sakit, paling cuma membatin, “Duh repotnya. Kok kayaknya susah banget jadinya ya hidup ini jadi kacau jadwalnya gara2 anak sakit. Well, pity her – it’s not me or my turn”

Ternyata not that bad, walau memang anak sakit membuat hidup kita jadi tidak sesuai dengan ‘schedule’ atauplan’yang kita buat. Cape & repot sih jelas, tapi toh di kantor atau dimanapun kita juga cape dan sibuk. Nyiapin meeting, paper dan report juga nyebelin :).

Tapi yang bikin nggak enak kalo anak (bayi) sakit, adalah perasaan cemas dan nggak menentu. Kalau sibuk pekerjaan dan belajar (tugas & ujian), kita udah bisa memperhitungkan langkah-langkahnya, strategi, time management dan deadline-nya. Kita tau bahwa sesudah tanggal atau waktu tersebut lewat, we’ll be okay and let’s see the result (we even can predict the result by how we’ve worked). Tapi kalau anak sakitmana kita tau kapan “this will over” – kapan dia akan kembali sehat seperti biasa. Dan kita nggak bisa merasakan sakitnya dia itu seperti apaapa masih bisa tahan dan diprediksi, apa sekali2 tapi sakit banget, apa hanya nggak enak badannya tapi terus2an terasaapalagi kalo bayinya ceria & nggak pernah nangis (walau sakit sekalipun) kayak bayi gue. And.. hey, bringing her to the doctor is also a trial & error healing process, even it’s compulsory!

Bayi sudah dibawa ke dokter dan 2 hari kemarin gue ke kantor seperti biasa, di kantor pun gue tetep bisa konsentrasi dan nggak terlalu kepikiran. Anyway, walau gue nggak ngerasa ‘feeling guilty’, tetep aja kadang ngerasa nggak enak karena waktu dia mulai sakit, gue sedang cuti dan berada di Bangkok, dan merasa harusnya anak itu dibawa ke dokter dari awal.

Dan akhirnya menghadapi anak sakit sama saja dengan menghadapi kondisi lain yang rutin maupun tak terduga. Kita harus rasional, cepat mempertimbangkan berbagai faktor dan situasi, dan berani mengambil keputusankeputusan yang tidak hanya berdasarkan perasaan saja. So hari ini gue mengambil keputusan untuk cuti karena bayi gue tambah parah & jadi panas, di kantor kerjaan bisa diatur, dan boss juga lagi cuti. Berbagai to-do-lists dan papers ditunda dulu dehmungkin di-compensate dengan tidak keluar pas istirahat besok-besok kali ya.

(ditulis seminggu yang lalu di rumah)