Friday, August 12, 2005

Men and Women at Work

Gosh, it’s almost 9 p.m. and I still in my desk office at Friday night!!

As some of you may have noticed, it’s been looong time I didn’t update my blog and Tabina’s. Bulan2 & minggu2 ini lagi banyak2nya kegiatan di kantor gue untuk semua unit: international meetings, meeting internal, berbagai urusan project management. Juni-Juli kemaren juga gue harus pergi2 melulu. Malah salah satu meeting rutin penting diadain Sabtu-Minggu di Laos, aduuh… wiken-wiken kerja gitu loooh :(, mana karena eventnya besar dari kantor yg datang & kerja banyak, termasuk our big boss. Ya udah deh ga kemana-mana, untungnya gue juga udah bolak-balik ke Vientiane dan just don’t feel curious anymore selain emang ga byk yg diliat (cuma sayang aja ga ke Morning Market-nya). Dan weekend meeting = sibuk sebelum & sesudah weekend, dan ga pake libur!

Ooops…. Nah skarang gue udah pindah lagi nih nungguin di ktr suami gue, udah jam 10 malem. Dia juga lagi sering sibuk; tadi gue mo pulang juga tanggung & males macet, lagian besok weekend ini gpp deh ditungguin. FYI, minggu lalu juga gue ‘terjebak’ nungguin dia ternyata you know… baru slesai jam 3 pagi!! So gue baru nyampe rumah hampir jam 4 pagi dan brangkat ke ktr lagi jam 7 pagi. Kayak jaman OS aja nggak seeeeh ^ ^

Jadi definisi ‘pulang malem’ yang dulu gue curhatin di awal2 blog ini ‘lahir’ udah berubah konsepnya ya

Isu & gossip


Selain isu-isu kesibukan kegiatan, di kantor kami masing2 juga lagi banyak gossip dan/atau hal-hal yang bikin resah atau menjengkelkan staf-staf selevel-level kita ini. Boss-boss yang menjengkelkan atau *Boss Yang Aneh – kata Extravaganza :)* selalu ada di tiap unit atau kantor. Di kantor suami gue, lagi in isu rotasi dan promosi pegawai mo naik jadi apa atau pindah kemana (yang nggak applicable buat suami gue, lha wong levelnya belum cukup umur, hehe). Sedangkan isu diantara orang2 sekitar gue di kantor, soal apakah kontrak diperpanjang, kalo iya berapa taun, probation diperpanjang atau pass dengan catatan ato dikasih kontrak baru nggak. Dan banyak lagi isu2 lain yang jadi bahan diskusi atau becanda saat makan siang atau after office hours (mungkin gaji, bonus, selingkuhan, hehe dll deh)

Well, it always happens in every office I guess. It’s the real world.. :) Mo di public company, private company, non-profit company, local or international company, corporate etc. Kalo udah pada kesel suka ada aja yang nyeletuk pengen keluar, cari company baru lah, browsing vacancy lah… But as everybody knows, hare gene cari kerja baru??? Emangnya gampang ^ ^

What for….???

Padahal suwer, umumnya orang2 (yg gue tau lho) kerja sampe mampus (skali lagi, kayak OS aja ya ^ ^) gini bukannya workaholic, atau kerajinan atau pengen dipuji boss (nggak ada ngaruhnya lha yaw) atau ada duit lemburnya, tapi ya terpaksa aja karena workload-nya lagi banyak banget dengan demand waktu yang ketat. Dan tentu saja, walau pada bilang pengen keluar, itu semua to keep the job and regular income. Kalo ngga terpaksa, pasti ngga ada yang berhenti kerja sebelum dapet kerjaan yang baru.

Trus income buat apa sih? Ya buat hidup, make a living – not just for ourselves but for our family or future family and secure future life. Future disini bukannya masa tua kaya raya, but at least ntar kalo terpaksa hidup sendiri, nggak bisa mengandalkan siapa2, nggak bisa kerja lagi, moga2 nggak nyusahin orang dan bisa survive.

Pilihan

Kalo buat cowok, maybe udah umum bahwa mereka breadwinner so ya harus kerja sampe mampus itu tadi.

Kalo buat cewek, terutama ibu-ibu yang punya anak, isu kerja begini selalu jadi topik bahasan dan renungan yang in. Antara kerja dan keluarga. Perhatiin aja deh berbagai postingan di blog-blog. Menurut diskusi gue dan temen sesama Ibu di kantor gue, ya baliknya sih soal pilihan. Bukan saja memilih antara kerja dan tidak kerja, tapi juga apakah ada pilihan? Tentu saja semua tergantung kondisi dan kemampuan setiap orang atau ibu yang memang berbeda-beda.

Barusan tadi ‘menemukan’ tulisan
Patsy
yang kira-kira juga menggambarkan apa yang sering jadi renungan dan diskusi kami (read this)

Kalo buat gue dan temen2 senasib seperjuangan Ibu-Ibu di kantor gue, yah kita sih kerja tujuannya terutama untuk anak. So kerja kayak orang gila gini bukannya nggak sayang anak, tapi justru sayang anak (sst.. ini bener lho, bukannya ‘pembenaran’). Ya buat biaya pendidikannya skarang dan kelak, buat asupan makanan bergizi, pakaian dan kenyamanan anak (don’t even think ngemanjain anak lho, lha hare gene nyaman yang standar2 aja butuh uang kok), dan kesehatan. Soal medical ini terutama lho di kantor gue; obat, dokter, vaksinasi, rawat inap dan biaya melahirkan ditanggung kan alhamdulillah banget. (makanya kadang suka jadi becandaan juga, anak-anak kita ini tanggungan member countries lho.. :)). Jangan2 makanya yang banyak dan pada betah tuh staf yang ibu-ibu, hehe…

Buat para ibu yang lain, mengutip kata Patsy: “Sebagian besar perempuan Indonesia, tidak punya pilihan itu.

I’m not going into it deeper. Wah bisa tambah panjang aja dan jadi bahan paper tersendiri ntar jadinya. Sudah sering jadi diskusi gue dan temen2 baik diskusi ringan antara teman dan teman kantor, atau diskusi serius dengan temen2 pas jadi Social Studies student dulu. But please, if you have time, think about them.

Di suatu penerbangan

Di perjalanan pulang gue mengeluh, ampyun kerja aja ya kok susah.. weekend2 harus meeting di kota kecil Vientiane di luar negri yang tidak gue kenal or ever imagine, ninggalin my little baby, mendatangkan ibu gue dari luar kota untuk menjaganya. Sementara perjalanan kok ya lama banget, check-out dari hotel jam 9 pagi, pesawat jam 10.30, nyampe Bangkok ganti pesawat nunggu boarding lagi, transit di Singapore nunggu boarding lagi (pff naik turun pesawat emang enak) dan delay pula lagi. Sesuai jadwal baru akan tiba di Cengkareng Jakarta jam 6.40 malam, dan 2 jam berikutnya baru sampai rumah di sebelah Selatannya Jakarta (not even inside Jakarta ^^). What a trip :(

Gerombolan belasan orang yang bikin delay di Changi S’pore ini kok rasanya juga ribut, cari tempat duduk susah, kayaknya TKI deh. Seorang diantaranya duduk sebelah gue, cewek muda. Dia tampak ragu dan merhatiin gue kalau pramugari membawa sesuatu, tapi dia juga nggak canggung pas makan. Gue ngasih contoh pas dia ngisi kartu imigrasi, dan kita ngobrol2.

Dia berangkat dari Arab Saudi pakai Garuda juga sehari sebelumnya jam 8 malam, yang berarti saat itu sudah kira-kira 22 jam dari pertama dia terbang. Tujuan akhir Surabaya. Siang harinya, pesawatnya dari Saudi mengalami gangguan bahan bakar, jadi harus menunggu lamaa di Changi, dan akhirnya seluruh penumpang didistribusikan dititipkan ke berbagai pesawat Garuda tujuan Jakarta hari itu. Padahal seharusnya dia sudah tiba di Jakarta jam 12 siang, jam 3 siang terbang ke Surabaya, dan ditunggu ibunya yang datang dari Kediri menjemputnya keSurabaya. Dia nggak tau sesama temannya menuju Surabaya tadi dapat pesawat yang mana ke Jakarta; nggak tau kopernya ada dimana, nggak tau nanti bisa terus ke Surabaya kapan atau harus menunggu di bandara bagaimana kalau tidak ada lagi penerbangan ke Surabaya hari itu.

Dia berangkat dari Jeddah pun buru2 karena tadinya si majikan bilang masih 2 hari lagi, ternyata adanya tiket hari itu. 3 tahun dia disana, belum pulang ke Indonesia selama itu. Umurnya setahun lebih muda dari gue. Sempat umrah diantar majikannya sebelum pulang. Sering telpon ibu dan kakaknya di Kediri pakai handphone majikannya. Gue nggak sampai hati menanyakan apakah majikannya baik (mengingat disini berita tentang TKW di Arab sering banyak nggak enaknya), tapi gue mendapat kesan majikannya baik. Saat gue tanya, dia bilang nggak akan balik lagi – "udah cukup ah, udah lama jauh dari Ibu".

Gue cuma bisa sedikit cerewet mengingatkan untuk tetep bareng2 orang-orang dari pesawatnya yang dari Saudi tadi yang ditempelin stiker, mengingatkan untuk tanya tentang barang2nya dan tempat menunggu/menginap di bandara karena itu haknya gara2 kerusakan pesawat, mengingatkan untuk jangan keluar imigrasi dulu sebelum jelas. Sambil dalam hati berharap segala urusannya dimudahkan, karena pasti nanti dia harus lewat loket khusus TKI yang terminal keluarnya juga akan berbeda dengan so many paperworks dan *entah berapa banyak lagi yang dikeluarkan*

How lucky I am…