A peek of Yangon

The city
Myanmar termasuk negara yang kondisi ekonominya lemah. Tau sendiri kan... Denger dari colleagues yang pernah kesana pun, katanya pembangunannya terbatas banget, termasuk infrastrukturnya – paling parah deh diantara negara2 ASEAN. Tapi begitu gue kesana dan ngeliat sendiri ibukotanya, Yangon... I think this city is beautiful!
Gue tadinya ngebayangin Yangon tuh mirip-mirip kota lain di Mekong Basin countries, at least mirip Vientiane deh. Ternyata sebenernya sih infrastrukturnya lebih baik – dalam arti well planned and well built (hehe… sisa-sisa ilmu planning gue masih ada juga ternyata). Jalan raya-nya tuh lebar-lebar, banyak taman dan pepohonan hijau gitu jadi kesannya adem, model alur transportasinya rapi dan terarah. Sempadan jalan bangunan-bangunan besar/utama cukup lebar dan halamannya pun luas. Bangunan tinggi bertingkat banyak juga; taxi dan bis banyak. Di depan hotel gue, Hotel Nikko Royal Lake, ada taman luas dengan kolam luas juga; katanya selain untuk jalan-jalan dan taman kota, tempat ini digunakan juga sebagai tempat pembibitan tanaman. Pokonya serasa di Bogor deh – tentu tanpa kemacetannya ya.
Yang bikin keliatan bahwa ekonomi agak sulit disini antara lain bangunan-bangunan di pusat kota yang agak kusam walaupun arsitektur klasiknya keren banget dan nggak tercemar tempelan iklan atau billboard disana-sini. Juga model-model bis dan taxi yang agak ketinggalan jaman, mungkin kayak Jakarta tahun 70-an atau awal 80-an kali ya.
Trus keliatan dari kota dan arsitekturnya, dan juga orang-orangnya, bahwa budaya dan sejarah (cultural and heritage) mereka tuh tinggi dan udah lama banget. Gue sih ngerasanya sewaktu masih di bawah Inggris kan kota yang dulunya bernama Rangon ini terkenal juga. Di cerita “80 Days Around the World” juga ada kisah tentang putrid dari Burma. Salah satu mantan Sekjen PBB juga kan berasal dari sini (hayoo inget nggak namanya dari pelajaran IPS dulu? :))
Waktu gue ke Yangon pertengahan November lalu, sedang high-season disini. Susah banget gue nge-arrange flight untuk orang2 yang berangkat dari negara lain lewat Bangkok (pakai TG atau Bangkok), waiting list terus. Selain lewat (= ganti flight di) Bangkok, untuk ke Yangon dari Jakarta bisa lewat Singapore (pakai SQ) kayak gue kemaren.
Sarung, Sandal & Shopping!
Di Myanmar ini yang unik tuh semua orang kemana-mana pakai sarung, baik cewek maupun cowok (disebut long-ji) – btw, bener nggak Mbak Syl ejaannya? Benerin ya :) dan pakai sandal jepit!
It’s part of their life. Untuk bekerja dan acara resmi kayak Meeting kayak acara gue kemaren, cowok-cowok juga pakai sarung kotak-kotak + sandal. Itu selevel ama pake batik atau jas hitam gitu deh. Tapi jangan salah, sarung kotak-kotaknya itu untuk acara resmi bahannya bagus banget dan mengkilat. Padannya pakai atasan model kemeja cina untuk cowok (warnanya hitam atau biru langit dari bahan sutra halus) dan sandal jepit kulit warna hitam. Pokonya keliatan deh dari pakaian dan sandalnya, mana bapak-bapak yang pejabat. Tadinya gue waswas juga liatnya, apa nggak takut merosot ya… ternyata mereka punya cara sendiri sehingga kuat loh ikatannya.
Kalau kegiatan sehari-hari, cowok-cowok itu pakai kemeja biasa yang dimasukkan ke dalam sarung. Kalau umumnya cowok-cowok menyimpan dompet dalam saku celana panjang, cowok-cowok Myanmar ‘nyelipin’ dompet di sarung bagian belakang (jadi ya nongol gitu dompetnya) atau dalam tas tangan kecil cowok yang dibawa-bawa. Tapi agak waswas juga merhatiin bapak-bapak naek 'angkot' tinggi dari belakang sambil ngangkat sarungnya tinggi2... :)
Kalau sarung untuk cewek nggak kotak-kotak, tapi bermotif etnik di bagian bawah atau sepanjang sarung berbahan sutra. Duh cantik-cantiknya… Dan sandal jepitnya pun lucu-lucu; kalo yang biasa sih ‘jepitnya’ berwarna hitam atau coklat polos, tapi yang keren berbahan beludru dan di bagian jepitnya itu ada yang berhias motif bunga, ada yang bagian jepitnya lebih lebar, warnanya pun ada yang biru, coklat, maroon. Katanya sih yang paling beken tuh sandal bikinan Mandalay, boleh bangga deh kalo pake Sandal Mandalay (hehe… bener nggak Mbak Syl ?)
Sayang selama 5 hari disana gue nggak sempat keluar hotel sering-sering. Pas punya kesempatan ½ jam untuk ke keluar, langsung lah gue berdua temen ke pasar utama setempat, Bogjoke Market atau disebut juga Scott Market yang hampir tutup jam 5 sore. Letaknya di pusat kota dan bangunannya tua bergaya klasik. Cuma mampir ke satu toko dan beli sarung-sarung cantik untuk cowok dan cewek pesanan untuk oleh-oleh. Harga tergantung kualitas, bahan sutra dan motifnya – full set atau di bawah aja, berkisar 5-20 US dollar. Selain itu sarung bantal, tas-tas dan dompetnya lucu-lucu. Bingung milih-milih warna dan motif-motif cantik, sampe toko lain pada tutup dan lampu pasar dimatiin!. Nggak sempat beli sandal di pasar, jadi beli di hotel aja, harganya sepasang 5 US dollar.
Miscellaneous
> Mata uangnya ”Kyat”, kira-kira 1000 Kyat = 1 US Dollar. Kalo mau nuker di pasar gelap, nggak bisa di hotel dan nggak ada money changer resmi.
> Kalo connect ke internet di tempat umum atau di hotel, nggak bisa akses ke server email gratisan seperti yahoo, hotmail, gmail atau friendster gitu.
> Trus kali krn kesempatan ekonomi terbatas dan mengandalkan pariwisata, orang-orangnya – terutama yang di tourism industry – tuh ramah2 & helpful banget. Bahasa Inggrisnya juga bagus & pengucapannya jelas.
> Ehm…, kalo ngobrol ama temen sesama Indonesia, jangan ngomong "elu gue" gitu deh. Setelah gue balik lagi ke Jkt, temen Myanmar gue ngasih tau bahwa gue tuh artinya disana = kelaminnya cowok! Ups… entah berapa kali aja gue & temen gue ngucapin gitu dimana2 selama disana… hehe.. pantesan rasanya kok kalo kita ngobrol atau ngomel2 kerjaan suka ada yang senyum-senyum yaaa!!
> Tambahan ah: meskipun kotanya bagus, airportnya masih kalah ama yg di Cambodia atau Laos. Bangunannya agak kusam dan trus apa2 desek2an, kata temen gue.. kayak Terminal Bis Kemayoran jaman 80an gitu :), dgn segala kehebohan pengunjung & barang2nya. Tapi kalo udah check-in lumayan kok ada AC & cafenya juga, lebih asik daripada ruang VIP-nya.
> And don't miss the Shwedagon. The biggest and most beautiful Pagoda in town.

<< Home